Peningkatan Elektabilitas PDIP Tergantung Pencapresan Jokowi
Peningkatan elektabilitas Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) pada pemilu mendatang akan sangat terkait dengan pencalonan Gubernur DKI Joko Widodo atau Jokowi sebagai calon presiden (capres).
Direktur Eksekutif Pol-Tracking Institute Hanta Yuda di Jakarta, Minggu (26/1), memaparkan berdasarkan hasil survei yang dilakukan pada 16-23 Desember 2013 terhadap 1.200 responden, menunjukkan elektabilitas Jokowi menempati peringkat pertama dengan raihan 37 persen.
Pesaing terdekat Jokowi adalah Prabowo dengan elektabilitas 10,3 persen, Aburizal Bakrie (5,9 persen), dan Wiranto (5,42 persen). Namun, seandainya Jokowi tidak menjadi capres, posisi pertama adalah Prabowo disusul Megawati (15,26 persen), Aburizal Bakrie (13 persen), dan Wiranto (10 persen).
Jika PDIP memastikan Jokowi sebagai capres sebelum pemilu legislatif (pileg), elektabilitas partai tersebut akan mencapai 30,78 persen. PDIP menjadi pemenang pemilu disusul Partai Golkar (12,34 persen), Partai Gerindra (6,51 persen), dan Partai Demokrat (4,67 persen).
Tetapi, bila Jokowi tidak menjadi capres, akan ada tujuh partai lolos parliamentary threshold atau ambang batas sebesar 3,5 persen, yaitu PDIP (18,8 persen), Partai Golkar (15,8 persen), Partai Gerindra (7 persen), Partai Demokrat (5 persen) serta Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan Partai Hanura dengan perolehan suara 4 persen.
Survei dilakukan Pol-Tracking, kata Hanta Yuda, menggunakan metode multistage random sampling dengan tingkat kesalahan 2,83 persen pada tingkat kepercayaan sebesar 95 persen.
Politikus PDIP Charles Honoris mengakui sosok Jokowi saat ini memang sangat memengaruhi elektabilitas partai dalam pemilu nanti. Hal itu berimbas pada ongkos politik politikus PDIP di lapangan yang semakin ringan. Namun, urusan capres PDIP merupakan wewenang Ketua Umum Megawati Soekarnoputri. Hal itu sesuai dengan hasil kongres PDIP di Bali, beberapa tahun lalu.
Potensi Curang
Ketua Umum Partai Nasional Demokrat (Nasdem) Surya Paloh mengingatkan besarnya potensi kecurangan dalam pelaksanaan pemilu nanti, baik soal daftar pemilih tetap (DPT) maupun kampanye bernada SARA.
Potensi kecurangan di DPT bisa terjadi dalam bentuk penggelembungan jumlah data, seperti pengalaman pemilu sebelumnya.
Dalam rapat koordinasi pemenangan pemilu Partai Nasdem, Surya Paloh mengaku mendapat laporan keanehan jumlah DPT di Papua.
“Di Papua, terjadi keanehan, dari laporan DPW Papua, bahwa DPT pemilihan gubernur dan DPT Pemilu 2014 perbedaannya cukup signifikan. Bagaimana mungkin dalam waktu hampir satu tahun, pertambahan DPT hampir 900.000,” kata Surya Paloh.
Namun, ia yakin perolehan suara Partai Nasdem akan mencapai target, terutama karena suara di luar Pulau Jawa.
Di beberapa provinsi di luar Pulau Jawa, perolehan suara Partai Nasdem, katanya, berada di posisi kedua. Ia yakin kondisi ini akan berimbas ke Pulau Jawa sehingga target perolehan suara sebesar 10 persen dalam pileg bisa terwujud.
Ketua Badan Pemenangan Pemilu Partai Nasdem Ferry Mursyidan Baldan mengatakan, untuk memastikan tidak ada suara Partai Nasdem yang hilang karena kecurangan, pihaknya sudah melatih saksi dari partai. Partai Nasdem juga menginstruksikan agar saksi dari partai di tempat pemungutan suara tidak mengambil “jatah” dana saksi parpol dari uang negara sekitar Rp 58,3 miliar per partai politik.

Saya ssendiri sudah berkali2 mengingatkan bahaya di balik kebijakan pencalonan Jokowi setelah PILEG.
Saya pribadi akan memilih calon dari GERINDRA kalau pada PILEG dan PILPRES kalo pencalonan Jokowi dilakukan setelah PILEG.
Sepertinya DPP PDIP tidak menghargai segala dukungan kepada JOKOWI dari seluruh lapisan. Saya ragu, dan bahkan mencurigai “hidden agenda” di internal DPP PDIP di balik belum dicalonkannya JOKOWI hingga mendekati PILEG.
Alasan SEKJEN PDIP bahwa JOKOWI akan di-“gebug” oleh lawan2 politik, itu alasan mengada-ada… Dia berpikir, hanya DIA sajalah yang punya feeling politik. Kita-kita yang lain yang berada di luar PDIP, alias bukan orang PDIP, dianggapnya pada BEGO SEMUA dalam hal kalkulasi politik.
Bila demikian, saya bersama kelompok2 saya, akan rame2 lari ke GERINDRA. Kita sudah sepakat akan alihkan pilihan kepada GERINDRA.
Pak Jokowi sudah saatnya untuk tampil, Jokowi harus Bisa !
Saya kira untuk saat ini Jokowi masih merupakan capres yang terbaik. Dukung dia untuk menjadi Presiden Indonesia 2014-2019
Jokowi belum saatnya mencalonkan jadi presiden, prediksi saya, banyak sekali kendala kalau sampai beliau jadi. Mengingat banyak lawan politik yang kurang sejalan dengannya.
Maju terus pak Jokowi. Kendala-kendala dan lawan-lawan politik pasti selalu ada. Itulah yang perlu diatasi. Merdeka !
ya kita tunggu aja
berilah kepastian rakyat Indonesia, ya…
Pakde JOKOWI Pokoe saya hanya pingin di pimpin Pakde ”JOKOWI”
maju terus pak jokowi…aku akan mendukungmu..kalau pak jokowi tidak di calonkan jadi capres..kemungkinan golput makin banyak dari pada pilpres 2009
Seperti biasa, kebanyakan rakyat Indonesia terlalu mudah dihinggapi euforia & ekspetasi yang sangat berlebihan dan cenderung mulai mengkultuskan individu, yang saat ini dialami P. Jokowi untuk jadi presiden di Pilpres 2014. Padahal saat ini baru menjabat Gubernur DKI Jakarta periode 1 dan baru berjalan tahun ke-2. Apakah tidak lebih baik tugas membenahi Jakarta diselesaikan, setidak-tidaknya untuk periode 1. Jika Jakarta bisa lebih baik, maka rakyat Indonesia tidak ada alasan lagi untuk tidak mendukung P. Jokowi jadi RI-1.
masyarakat indonesia skrang sdh sangat berubah pola pikir,rakyat sdh tidak mau melihat kebelakang.masyarakat butuh sosok pemimpin yg komunikatif,inovatif,kreatif serta mendengar langsung keluhan masyarakat,,,dan sosok jokowi sngat dirindukan masyarakat dn kita membutuhkan pemimpin umur 40 s/d 60 tahun. lebih dari 60 thn sdh tidk kreatif.dn jokowi pemimpin yg berpengalaman yang mengerti betul kebutuhan masyarakat,karna jam terbangnya dimulai dari walikota,gubernur makanya sdh sangat pantas menjadi presiden.
Saya pendukung Jokowi. Tapi saya mau tanya ke rekan2, apa pendapat sdr2 tentang kicauan2 trio macan 2000 tentang jokowi, konglomerat dibalik pencitraan jokowi, bahkan korupsi yg dilakukan jokowi? …
trio macan kicauannya kok didengar jgn mencari populer dgn merendah org yg telah lebih populer itu namanya nebeng ngetop orang lain, gaya dan busana trio macan saja tdk menunjukan kepribadian wanita Indonesia seutuhnya
Hanya Jokowi yg memenuhi kreteria yg masyarakat Indonesia inginkan menjadi Capres RI saat ini