Surat untuk Jokowi dari Niken Satyawati
Pak Jokowi, pertama-tama saya ucapkan selamat kepada Bapak, yang Jumat (14/3/2014) resmi dinyatakan sebagai calon presiden (Capres) dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Saya ucapkan selamat juga kepada Ibu Megawati Soekarnoputri, yang menunjukkan sikap sebagai negarawan sejati. Dia berbesar hati, mampu menuruti nurani yang mungkin memanggil-manggil bahwa Indonesia butuh pemimpin yang lebih baik, alih-alih mengubur egonya. Barangkali juga setelah melihat kenyataan di hampir setiap survei, Bapak selalu ada di urutan teratas sebagai calon presiden pilihan rakyat. Atau sebagai strategi agar PDIP menang Pemilu legislatif? Wallhu a’lam. Namun jutaan rakyat Indonesia melihat di layar gelas, Ibu Mega merelakan predikat Capres PDIP bukan dirinya atau siapapun dari trah Soekarno, seperti dikhawatirkan banyak orang selama ini.
Pak Jokowi, cerita belum usai. Bapak masih Capres, dan belum menjadi Presiden RI. Jalan masih panjang. Perjuangan harus dilakukan. Sebab di samping berjuta dukungan, kenyataannya banyak juga pihak yang berusaha menghadang Bapak. Pihak yang jauh-jauh hari sudah bersiap-siap merebut kursi RI1, juga kelompok yang jagonya Bapak kalahkan dalam Pilgub DKI, dua tahun lalu.
Mereka punya segudang amunisi untuk memasang ranjau agar jalan Bapak menuju kursi RI1 tidak mulus. Beberapa pihak bahkan merupakan pemilik usaha di bidang media informasi, di mana tentunya mereka lebih leluasa untuk berkampanye dan tayang setiap saat, memang media itu milik sendiri. Satu lainnya yang saya kira sangat kuat, didukung dengan dana yang konon tanpa batas. Satu lagi yang tak boleh dilupakan adalah kelompok anti-Jokowi yang dikenal solid. Mereka ini selalu memutar ulang kaset rusak, berteriak dan copy-paste hal yang sama di mana-mana. Mereka biasanya menyatakan, Jokowi harusnya tetap jadi Gubernur DKI, karena belum selesai masa tugasnya, dengan dalih mengkhianati amanat pemilih DKI dan bagaimana dengan Jakarta bila ditinggal begitu saja. Mereka tidak mengerti, bahwa sebagai presiden, tentu nantinya Bapak akan lebih leluasa mengatur Ibukota Negara. Toh Solo juga tidak kenapa-napa ketika Bapak pindah ke Jakarta.
Mereka juga akan bilang, kinerja Jokowi belum menunjukkan hasil, masih banyak janji yang belum diwujudkan, terutama mengatasi banjir, dengan melihat Jakarta yang “masih aja banjir”. Kenyataannya, data World Bank menunjukkan bahwa kepemimpinan Bapak selama setahun di Jakarta, telah menyelesaikan banyak hal, dan terkait persoalan banjir telah melakukan kerja lebih banyak dari gubernur-gubernur sebelumnya yang menjabat lima tahun. Mereka juga akan bilang Jokowi hanya mengejar pencitraan/ popularitas, tanpa melihat pemimpin-pemimpin lain dan juga pemimpin mereka sendiri yang gemar narsis di berbagai kesempatan, bencana dan bahkan menyusup di ajang pencarian bakat di televisi.
Satu lagi amunisi berupa isu SARA, yang masih efektif disumpalkan ke lubuk hati kelompok intoleran di negeri multikultural yang katanya bersemboyan Bhinneka Tunggal Ika ini. Begitu banyak amunisi mereka, Pak Jokowi. Apakah Bapak siap menghadapi semua itu?
Sementara, Pak Jokowi, Bapak punya apa? Saya tak yakin Bapak didukung cukong-cukong hitam dengan dana haram seperti selalu dilontarkan sebuah kelompok, karena kelompok itu selalu saja berteriak tanpa bukti. Setahu saya, Bapak sejak menjadi Walikota Solo, hanya didukung rakyat-rakyat kecil yang terus bertambah setiap hari. Rakyat kecil yang Bapak sambangi dalam setiap aksi blusukan, yang mencintai Bapak. Rakyat kecil yang Bapak mintai restu saat berkampanye sebagai Walikota Solo, rakyat kecil yang Bapak pamiti yang hanya bisa menangis antara sedih dan bahagia, yang berdoa untuk keselamatan dan kesehatan Bapak, ketika akan meninggalkan Solo menuju DKI. Dan tentu saja rakyat kecil para relawan Bapak, yang dengan suka hati menulis hal-hal kecil namun positif tentang kepemimpinan Bapak, lalu menyebarkan di media sosial. Hal-hal yang tak dilakukan pemimpin lainnya, namun penting dan diapresiasi positif oleh banyak orang, yang akhirnya tersebar, dan diakui dunia.
Pak Jokowi, terus terang saya sebenarnya khawatir. Namun saya juga percaya, dengan kuasa Tuhan, apa yang tak mungkin menjadi mungkin. Tentu Tuhan memberkati siapapun yang punya niat baik, termasuk Bapak, dan juga rakyat yang mendukung Bapak karena menginginkan pemimpin yang lebih baik untuk Indonesia. Makin tinggi pohon, makin kencang angin bertiup. Semoga Tuhan selalu bersama Bapak dan rakyat Indonesia.
Pak Jokowi, rasanya baru kemarin saya berkenalan dengan Bapak. Duduk semeja dengan Bapak, mendengar bibir Bapak yang bergetar saat menyatakan akan berusaha sebaik-baiknya menjadi Walikota Solo. Rasanya baru kemarin saya menulis tentang Bapak, berisi kesan saya terhadap sang Walikota Solo di Kompasiana. Rasanya baru kemarin saya melihat Bapak dan Pak Rudy wira-wiri berbaju batik motif daun pepaya. Rasanya baru kemarin saya melihat ribuan orang mengenakan baju kotak-kotak. Tahu-tahu sekarang Bapak dicalonkan sebagai Presiden RI.
Pak Jokowi, dengan berbagai kendala yang menghadang, bila sejarah menakdirkan Bapak menjadi presiden RI, saya minta Bapak tetap sederhana, tetap rendah hati. Tetap menjadi Jokowi yang apa adanya, penuh spontanitas dan tidak jaim. Saya titip Indonesia. Indonesia yang bukan hanya Jawa, namun dari Sabang sampai Merauke. Bapak tak perlu membangun jalan-jalan tertentu yang akan Bapak lewati. Tapi bangunlah banyak jalan dan jembatan di seluruh negeri. Agar ekonomi berjalan lancar, masyarakat di pedalaman-pedalaman lebih mudah mengakses pendidikan dan pelayanan kesehatan.
Sekian surat dari saya. Semoga kesehatan dan kebahagiaan selalu melimpah kepada Pak Jokowi, keluarga Bapak, semua pendukung Bapak, dan seluruh rakyat Indonesia. Amieen….
PS: Ingat ya, Pak Jokowi. Makan yang banyak, agar lebih gemuk. Sebab bila menjadi presiden, Bapak akan menghadiri jamuan makan malam dengan para pemimpin dunia. Kami malu punya presiden kurus!
Oiya Pak. Bila Allah SWT menghendaki Bapak sebagai presiden, Bapak milik Indonesia, bukan semata milik partai. Bapak harus mengutamakan rakyat. Bener lho!
Solo, 14 Maret 2014
Niken Satyawati
Sumber: www.kompasiana.com/nikensatyawati

Apapun yg akan terjadi,saya akan tetap setia mendukung pak Jokowi.”sepi ing pamrih,rame ing gawe”.
saya sependapat sama neng niken, apapun yg terjadi bila ALLOH S.W.T sudah menghendaki maka Bapak akan terpilih memimpin “Republik Indonesia”, biarkan orang mencerca Bapak itu hanya tanda mereka sempit hatinya. maju terrus Do’a Ibu & rakyat yg pro thd Bapak menyertai
Do’a ibu & rakyat yg pro Bapak menyertaimu, apabila ALLOH S.W.T menghendaki pasti pak jokowi akan memimpin “Republi Indonesia” ,amiin..
Sukses ya Pak… Doa saya menyertai…
Kalo boleh kasih sedikit masukan, Pak Jokowi sampaikan ke Rakyat kenapa Bapak bersedia menjadi Calon Presiden RI, Saya yakin bukan hanya sekedar menerima mandat dari Ibu Megawati ^ ^… Saya yakin Pak Jokowi punya pandangan jangka panjang yang tidak dipikirkan oleh orang-orang lain yang berusaha mencerca Pak Jokowi dengan isu “melanggar janji” :)… Bukankah kalo Pak Jokowi di Istana Negara berarti Pak Jokowi juga milik Jakarta :)…
Oya Pak, bukan bermaksud mencampuri karena saya Yakin Bapak sudah tau siapa kira-kira calon pendamping Bapak sebagai Wakil Presiden dan juga team kerja Bapak nantinya di Kabinet (bila Bapak telah jadi Presiden) :). Dan saya yakin Bapak juga tidak akan memilih hanya karena “tuntutan partai karena harus berkoalisi” :)… Saatnya melakukan perubahan dan saya Percaya Bapak akan melakukan perubahan itu ^ ^…
Kalo ada pihak-pihak yang bilang Bapak kurang tegas dan kurang wibawa, seorang yang mendengarkan pendapat orang lain bukan berarti kurang berwibawa kan ^ ^. Dan bukannya di dunia ini tidak ada orang Sempurna karena Kesempurnaan itu hanya milik Yang Maha Kuasa… Jadi wajar kalo Bapak masih punya beberapa kekurangan :), itu namanya Bapak masih manusia :). Bukankah itu sebabnya seorang Presiden didampingi oleh Wakil dan dibantu oleh para menteri :), agar semua bisa saling bekerja sama untuk menghasilkan kinerja yang terbaik untuk bangsa…
Saya mendoakan Bapak agar tetap menjadi Pribadi yang Bersahaja, Baik, Tegas dan Pribadi yang tau apa yang harus dilakukan dan teguh pada prinsip untuk membangun Bangsa ^ ^ Amien…
setuju Jokowi jd Presiden RI asal jangan jd “Boneka” Megawati, dan manut aja kepada Megawati. Bahaya apabila Jokowi manut terus pd Mega, bisa jd Megawati menjadi Queen of Presiden RI.
Kita harus berpikir positif, ketika Megawati menjadi presiden, dia dgn berani mengusulkan perubahan undang-undang pemilihan Presiden yg langsung dipilih oleh rakyat. padahal dia Megawati sangat memahami kalau undang-undang tersebut bakal merugikan dirinya bila maju sebagai Capres di periode berikut. dalam hal ini Megawati telah menunjukkan bahwa dia adalah seorang Negarawan dan bukan seseorang yg nafsu dgn kekuasaan. dan saya percaya ketika nanti Jokowi sukses menjadi Presiden di negara ini maka Megawati selaku seorang Negarawan jg akan bersikap arif atas segala keputusan yg akan dilakukan Jokowi bersama Kabinetnya.
Suara Rakyat Suara Tuhan,Ibu Megawati sudah mendengar dan mengikuti suara rakyat dan Jika Tuhan Yang Maha Kuasa berkehendak Jokowi menjadi Presiden NKRI, Siapakah yang dapat menghalangi ?